https://gsb.cimahikota.go.id/json/diskominfoarpus/cimahikota/func_get_news_by_id/id=81563 Berita Detail

BERITA

Budidaya Maggot Ditargetkan Kurangi Sampah Hingga 30 Persen


CIMAHI - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi menargetkan budidaya maggot atau larva lalat Black Soldier Fly (BSF) bisa mengurangi timbulan sampah hingga 30 persen dari total timbulan sampah di Kota Cimahi yang mencapai sekitar 270 ton per harinya.

"Target pengurangan sekitar 30 persen dari timbulan sampah di program strategi daerah tahun 2025," kata Kepala DLH Kota Cimahi, Lilik Setyaningsih pada Jumat (8/10/2021).

Dikatakan Lilik, budidaya sampah tersebut sangat bermanfaat untuk pengelolaan sampah, dan bisa mengurangi beban biaya pembuangan sampah dari Kota Cimahi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang cukup besar setiap tahunnya.

Beban biaya pembuangan sampah dari Kota Cimahi ke TPA Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat mencapai Rp 16 miliar per tahun dari total 220 ton sampah yang dibuang setiap harinya. Sementara beban biayanya akan meningkat jika pembuangan sampah sudah dialihkan ke TPPAS Legok Nangka, Kabupaten Bandung.

Berdasarkan hasil estimasi, biaya pembuangan sampah ke TPPAS Legok Nangka mencapai Rp 23 miliar lebih setiap tahunnya. Estimasi pengeluaran biaya pengangkutan sampah dari Kota Cimahi itu hanya untuk Kompensasi Jasa Pelayanan (KJP) dan Kompensasi Dampak Negatif (KDN). 

Jika ke TPA Sarimukti, terang Lilik, biaya pelayanan yang meliputi pengangkutan, KJP dan KDN hanya Rp 198.255 per ton. Sedangkan bila ke TPPAS dengan item serupa mencapai Rp. 423.168 per ton.

"Estimasi biaya ke Legok Nangka itu sudah dihitung dengan subsidi dari Pemprov Jabar. Kalau gak disubsidi bakal lebih besar lagi biayanya," ungkap Lilik.

Dengan biaya besar tersebut, maka pihaknya akan terus mendorong budidaya maggot untuk mengurangi beban sampah yang dibuang ke TPA. Seperti yang sudah dijalankan warga Kompleks Puri Cipageran, RT 04/18, Kelurahan Cipageran, Kecamatan Cimahi Utara, Kota Cimahi.

Pihaknya terus mendorong RW lainnya di Kota Cimahi untuk melakukan budidaya serupa. Bantuan seperti pembuatan rumah maggot dan pemberian ember siap disalurkan asalkan pihak RS menyediakan lahan.

"Kita baru bisa intervensi kepada 36 RW yang budidaya maggot. Mudah-mudahan ke depan terus bertambah. Kita bantu buatkan rumah maggot asalkan lahannya disediakan," katanya.